SEKOLAH LAPANGAN IKLIM BUAT PETANI

SEKOLAH LAPANGAN IKLIM BUAT PETANI
Rizaldi muda tak pernah berencana mempelajari meteorologi. Ketika ditemui di kampus pascasarjana IPB, ia berkisah jurusan meteorology pertanian ialah pilihan ketiga saat mendaftar kuliah.
Tapi setelahdidalami, ilmu ini sangat menarik. Rizaldi tergabung pada angkatan kedua dijurusan tersebut kemudian berlanjut ke program pascasarjana di jurusan dan kampus yang sama.
Kecintaannya pada dunia iklim dan pertanian dilandasi keyakinan, bahwa iklim dan pertanian merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kualitas panen sangat bergantung pada iklim. Berbagai jenis tanaman sebenarnya dapat dibudidayakan secara bergantian seiring dengan perubahan musim yang tentu saja sangat dipengaruhi iklim.
Sesungguhnya, Negara-negara majulah yang menyebabkan tingginya emisi korban sekarang karena merekalah yang pertama memulai industrialisasi dinegara mereka.

Emisi dari sawah
Sebaliknya, Negara-negara berkembang masih jauh tertinggal dimasa itu. Negara-negara berkembangpun kemudian mulai mengembangkan berbagai industry yang juga menyumbang emisi karbon. Selain karena industrialisasi, pemakaian bahan bakar minyak yang melepaskan karbon, sawah yang melepaskan metana, dan penggunaan pupuk nitrogen juga menjadi penyebab lain meningkatnya emisi gas rumah kaca.
Hal itu dapat diminimalkan dengan penggunaan bahan bakar yang dapat diperbaharui dan bahan-bahan organic seperti pupuk alami. Hal-hal inilah yang dapat memicu perubahan iklim dan terjadinya iklim ekstrem di berbagai belahan dunia. Perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, khususnya terhadap bidang pertanian.
Perubahan iklim mempengaruhi maju dan mundurnya musim tanam dan panen yang merugikan petani itu sendiri. Dampak yang bersifat kontinu yaitu kenaikan suhu, perubahan suhu, dan kenaikan salinitas atau kadar garam air tanah diwilayah dekat petani.
Adapun dampak yang bersifat diskontinu yaitu meningkatnya gagal panen. Penyebabnya ialah tingginya frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrem yang memunculkan banjir, kekeringan, dan angin kencang. Kegagalan panen juga disebabkan munculnya serangan atau ledakan hama penyakit baru tananman. Lebih parah lagi, dampak permanen yang ditimbulkan yaitu berkurangnya luas kawasan pertanian dikawasan pantai akibat kenaikan muka air laut.

Sekolah lapangan
Rizaldi kini mengembangkan Sekolah Lapangan Iklim (SLI) untuk menyebarluaskan teknik budi daya tanaman sesuai dengan iklim serta menguatkan kelembagaan petani dan strategi bisnis pertanian. Ptokannya ialah informasi iklim dan kemitraan untuk mengelola resiko oklim.
Salah satu daerah yang menjadi salah satu objek pengembangan SLI adalah indramayu. SLI merupakan hasil kerjasama antara IPB, Departemen Pertanian (sekarang Kementrian Pertanian), Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), dan pemerintah daerah indramayu. Tidak hanya di indramayu, SLI juga sudah diterapkan dan dikembangkan di banyak daerah di Indonesia seperti pacitan.
Teknisnya, petani diajari melakukan strategi tanam, memilih komoditas, dan menerapkan pola tanam baru. Hal-hal tadi dilakukan untuk mengelola resiko iklim sekaligus mendapatkan hasil produksi yang tinggi. Itu disebut SLI tahap I.
Memasuki tahap II, Rizaldi memulai menguatkan para petani secara kelembagaan, mengajari mereka untuk bekerjasama, menerapkan teknologi budidaya, mengolah hasil, memasrkan, dan mengetahui system pergudangan.
System pergudangan yang baik dapat membantu petani mengembangkan strategipenjualan hasil panen. Hal ini tentu berimbas pada pendapatan petani sehingga mereka mampu menjual hasil panen disaat harga pasar sedang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s